‘Sepak Bola’ berujung ‘Saling Bonyok’

Bukan hal yang baru bagi dunia persepakbolaan, terutama di Indonesia, jika sebuah pertandingan sepak bola acapkali berakhir dengan aksi ricuh. Dan itu kembali terjadi, setelah pertandingan PERSIB melawan Gresik United di Stadion Siliwangi Bandung hari rabu 11 april 2012. Aksi tersebut melibatkan salah stau pemain dari kedua belah pihak, akibatnya salah seorang pemain yang berasal dari Gresik United mengalami luka robek di pelipis kirinya.

Leave a comment »

Insiden akhir laga PERSIB vs Gresik United

Leave a comment »

Teknologi Komunikasi (Tablet PC)

Tablet PC adalah laptop – atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer.

Istilah ini dipopulerkan oleh Microsoft pada tahun 2001, tetapi PC tablet sekarang mengacu pada setiap komputer pribadi yang berukuran tablet, pun jika tidak menggunakan Windows melainkan sistem operasi PC yang lain. Tablet dapat menggunakan papan ketik virtual dan pengenalan tulisan tangan untuk input teks melalui layar sentuh.

Tablet PC adalah laptop – atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer.

Istilah ini dipopulerkan oleh Microsoft pada tahun 2001, tetapi PC tablet sekarang mengacu pada setiap komputer pribadi yang berukuran tablet, pun jika tidak menggunakan Windows melainkan sistem operasi PC yang lain. Tablet dapat menggunakan papan ketik virtual dan pengenalan tulisan tangan untuk input teks melalui layar sentuh.

Setelah mengembangkan Windows for Pen Computing, Microsoft mengembangkan dukungan untuk tablet yang dapat menjalankan Windows dengan nama Tablet PC Microsoft. Menurut definisi Microsoft 2001, “Microsoft Tablet PC” berbasis pena dan merupakan PC x86 yang memiliki fungsi tulisan tangan dan pengenalan suara. Tablet PC menggunakan piranti keras yang sama seperti laptop biasa tetapi menambahkan dukungan untuk input pena. Untuk dukungan khusus bagi input pena, Microsoft merilis Windows XP Tablet PC Edition. Saat ini tidak ada versi khusus Windows Tablet namun dukungan dibangun untuk kedua versi Home dan Business Windows Vista dan Windows 7. Tablet yang menjalankan Windows mendapatkan fungsi tambahan menggunakan layar sentuh untuk masukan mouse, pengenalan tulisan tangan, dan dukungan gesture. Setelah Tablet PC, Microsoft mengumumkan inisiatif UMPC pada tahun 2006 yang membawa tablet Windows ke faktor dengan bentuk yang lebih kecil dan berpusat pada sentuhan. Ini diluncurkan kembali pada tahun 2010 sebagai Slate PC, untuk mempromosikan tablet yang menjalankan Windows 7, menjelang peluncuran iPad Apple. Slate PC diharapkan dapat memperoleh manfaat dari kemajuan perangkat mobile yang berasal dari keberhasilan netbook.

Sementara banyak produsen tablet pindah ke arsitektur ARM dengan sistem operasi ringan, Microsoft tetap pada Windows. Meskipun Microsoft memiliki Windows CE untuk dukungan ARM ia telah menjaga target pasarnya untuk industri smartphone dengan Windows Mobile dan Windows baru berbasis Windows CE 6, Windows Phone 7. Beberapa produsen, bagaimanapun, tetap menunjukkan prototipe tablet berbasis Windows CE yang menjalankan kerangka biasa.

Dengan suksesi Windows Vista, fungsi Tablet PC tidak memerlukan lagi edisi yang terpisah. Dukungan Tablet PC dibangun ke semua edisi Windows Vista dengan pengecualian Home Basic dan edisi Starter. Hal ini memperluas pengenalan tulisan tangan, koleksi tinta, dan metode input tambahan untuk setiap komputer yang menjalankan Vista bahkan jika perangkat input adalah digitizer eksternal, layar sentuh, atau bahkan mouse biasa. Vista juga mendukung fungsi multi-sentuh dan gerak tubuh (awalnya dikembangkan untuk versi Microsoft Surface untuk Vista) dan sekarang digunakan oleh publik dengan merilis tablet multi-sentuh. Windows Vista juga secara signifikan meningkatkan fungsi pengenalan tulisan tangan dengan pengenalan personalisasi alat pengenalan tulisan tangan selayaknya alat belajar tulisan tangan otomatis.

Fungsionalitas tablet tersedia di semua edisi Windows 7 kecuali edisi Starter. Ini memperkenalkan Matematika baru Input Panel yang mengenali ekspresi dan formula matematika tulisan tangan, serta terintegrasi dengan program lain. Windows 7 juga secara signifikan meningkatkan input pena dan handwriting recognition dengan menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan mendukung lebih banyak bahasa, termasuk sistem penulisan Asia Timur. Kamus kustom yang dipersonalisasi membantu melalui kosakata khusus (seperti istilah medis dan teknis), dan prediksi teks mempercepat proses input untuk membuat kegiatan mencatat lebih cepat. Teknologi multi-sentuh juga tersedia pada beberapa PC tablet, memungkinkan interaksi yang lebih maju dengan menggunakan isyarat sentuhan dengan jari-jari Anda seperti menggunakan mouse. Masalah mungkin timbul dengan fungsi tablet dari OS.

Windows 7 yang memiliki kemampuan sentuhan dibangun dengan teknologi Microsoft Surface. Ini adalah sentuhan-sentris gerakan dan UI peningkatan yang bekerja dengan sebagian besar komputer sentuhan saat ini. Di antara tablet PC pertama kali diluncurkan pada tahun 2010 berdasarkan pada sistem operasi Windows 7 adalah bModo12 dari bModo dan Samsung Galaxy.Windows memiliki sejarah teknologi tablet termasuk Windows XP Tablet PC Edition. Tablet PC Edition merupakan superset dari Windows XP Professional, fungsionalitas tablet perbedaan ini, termasuk input teks alternatif (Tablet PC Input Panel) dan driver dasar untuk mendukung piranti keras tablet PC tertentu. Persyaratan untuk menginstal Tablet PC Edition termasuk digitizer tablet atau perangkat touchscreen, dan tombol kontrol piranti keras termasuk tombol pintas Ctrl-Alt-Delete, tombol bergulir, dan setidaknya satu tombol aplikasi pengguna-dikonfigurasi.

SUMBER: http://www.wikipedia.com

Leave a comment »

Sehari untuk Selamanya (#2)

Sabtu pagi pun menjelang…

Dan Rara terbangun karena suara yang mengalun dari handphonenya. Ia segera mengambilnya dari bawah bantal dan dengan kondisi yang masih mengantuk’ ia mengangkatnya..

“Huaaaalooo…..”
“Ra nanti kayanya nggak jadi ke distro deh!”
“Siapa sih nih??”
“Vira, Raraaaaa!!!!”
“Duh pagi nih neng…..”
“Emang juga gue tahu… cuma mau ngabarin aja kok gue.”
“Iyaaaaa.”
“Yaudah ya’ daaaagh….”
“Hhhhh….”

Setelah menutup telepon dari Vira, ia kembali tidur. Bagi Rara jam 8 pagi di hari Sabtu adalah jam 2 subuh.

Sekitar jam 10 pagi Rara bangun dari tidurnya. Sambil mengulet, ia mencoba membuka matanya. Setelah itu, ia menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari kran di westafel. Sehabis itu, ia mengeringkan wajahnya dengan handuk dan berkaca di depan cermin. Ia mengusap-usap mata dan wajahnya sebentar, lalu pergi ke ruang tv.

Di ruang tv Rara menemukan kakaknya yang sedang asyik menonton siaran ulang sepakbola tadi malam.

“Pagi mas Dio…”
“Baru bangun ra?” Tanya ibu.”
“Ibu kaya nggak tahu Rara aja, paginya Rara kan jam 10an.” Ejek mas Dio.”
“Kemarin aku abis baca buku sampe larut malem…”
“Halaaaah nggak baca buku aja kamu emang bangun siang kok ra!”
“Biarin aja kek sekali-sekali.”
“Sekali-sekali kok tiap Sabtu ra.” Ayah menambahkan.”
“Aaaah ayaaaaah….”
“Sudah-sudah nih sarapan dulu ra.”
“Makasih ya bu.”

Selesai sarapan seperti biasa Rara mengganggu kakaknya yang sedang asik dengan remote tv.

“Mas Diooooo….”
“Apa sih nih anak! Jangan resek deh.. jangan dipencet ra tanggung.”
“Mas acara musik dong….”
“Nggak ah’ kamu kan bangunnya belakangan, jadi nontonnya juga belakangan.”
“Ih parah banget sih mas….”
“Biarin ah’ nanti aja jam 1 kamu nonton tv nya.”
“Huuuuuu…” Rara menyoraki mas Dio sambil melempar bantal sofa ke wajah mas Dio.”
“Raraaaa resek ah!!”

Rara segera pergi ke kamarnya.

Sesampainya di kamar ia menyalakan mini compo kesayangannya dan mengambil handphonenya yang ada di atas kasur.

“Eh iya tadi Vira telepon kenapa ya?”

Rara pun menelepon balik.
“Halo…”
“Vir tadi lo kenapa telfon?”
“Kan tadi gue udah bilang nggak jadi ke distro.”
“Loh kenapa??”
“Gue putus sama Ega.”
“Ah’ bercanda lo.”
“Beneran ra..”
“Kok bisa?”
“Lo inget kan pas terakhir gue nganterin lo sampe halte, nah nggak lama kemudian nyokap gue nelfon minta tolong gue ngambil kue pesenannya di toko kue cake mania yang ada di mall itu loh ra tahu kan lo?”
“Iya yang lo pernah ngajak gue itu kan?”
“Iya… nah pas gue keluar dari toko kue, pas banget gue papasan sama dia dan seorang cewe gitu…”
“Sepupunya kali…”
“Terus cewe itu ngenalin diri ke gue dengan bilang kalo dia adalah pacarnya Ega.”
“Ya ampun kok bisa gitu ya?”
“Nggak tahu deh tuh, yaudahlah gue juga udah males ngomonginnya.”
“Yaudah lo yang sabar ya Vir…”
“Apaan sih lo lebay banget tenang aja lah… hahaha mungkin udah saatnya gue
hunting yang fresh-fresh.”
“Ih najis banget sih lo, yaudah gue mandi dulu ya daaaagh…”
“Ih jorok yaudah gih sana’ daaaaagh…”

Pembicaraan antara mereka terputus.

Seusai mandi, Rara bergegas pergi ke ruang tv sambil berharap kakaknya telah beranjak dari sana. Dan benar saja’ ia tidak menemukan keberadaan mas Dio disana.

“Mas Dio mana?”
“Kenapa nanya-nanya? Kalo orangnya ada aja berantem terus.”
“Bu Rara serius..”
“Pergi tadi dijemput temennya.”
“Ibu kok rapih banget mau kemana?”
“Ke pernikahan anaknya temen ibu pas SMA dulu.”
“Ayah ikut juga?”
“Ikut, kamu mau ikut juga?”
“Nggak deh…”
“Yaudah kebetulan kamu jaga rumah temenin bi Pur sekalian.”
“Iya.. hati-hati ya bu.”
“Yaudah ayah sama ibu pergi dulu ya.” Kata ayah berpamitan.”
“Iya’ daaaaaagh….”

Selang beberapa menit kemudian…

“Mba kok tumben nggak ikut bapak sama ibu?” Tanya bi Pur.”
“Males ah bi… eh bibi mau kemana?”
“Mau ngelondri’in baju ibu nih.”
“Dimana?”
“Biasa di ujung jalan kompleks kita itu.”
“Jalan kaki?”
“Masya Allah, ya nggak lah mba naik becak.”
“Yaudah…”
“Tunggu bentar ya mba…”
“Iya…”

Tinggallah Rara sendirian dirumah. Ia sibuk menggonta-ganti channel televisi baik lokal maupun saluran tv kabel. Namun, tidak ada acara yang menarik siang itu.

Tiba-tiba dia teringat akan distro yang tidak jadi ia dan Vira kunjungi. Setelah menunggu kedatangan bi Pur yang hampir 30 menit itu, akhirnya berakhir.

“Bi aku pergi ya. Nanti kalo ibu telfon terus nanyain aku, bilang aja aku ada urusan gitu ya.”
“Iya rebes mba…”
“Daaaaah pergi dulu ya.”
“Iya hati-hati mba.”

5 menit kemudian Rara telah berada di jalan raya. Sambil mengingat lokasi distro itu, ia menyalakan radio di mobilnya.

“(81,3 US RADIO’ PORTS OF CREATIVE YOUNGER.. masih bareng gue Gadis Paradise di jam 2 siang… masih banget gue tunggu sms dari lo ya YOUNGERS. Yang lagi di jalan mau kemana, mau ngapain, sama siapa? Share sama gue yuk di 0813636813. Next gue punya satu lagu dari Paula Abdul with dance like there’s no tomorrow, enjoy…).”

“Sms aaaaah…” ujar Rara.”

Dan inilah isi sms yang dikirim oleh Rara…

“(Siang gue Rara. Gue lagi otw ke distro nih dis, di daerah Cilandak. Gue sendirian nih hehe, request lagunya David Cook yang time of my life dong! Trims ya dis…).”

Setelah lagu habis, suara sang penyiar kembali bergema.

“(Welcome back to US RADIO’ PORTS OF CREATIVE YOUNGER!!! Udah banyak banget nih sms yang masuk ke inbox kita… salah satunya ada Rara nih, hai Rara. Dia bilang katanya lagi otw ke distro di daerah Cilandak gitu deh… dia request lagunya David Cook yang time of my life, oke ditunggu aja ya ra di antrian hari ini. Trims ya dis, trims juga Rara! Nah buat kalian nih para YOUNGERS masih gue tunggu ya sms dan request annya apa… oke kali ini giliran tim lokal yang bakal gue puterin… ada Mass Romantic with narsis….).”

Setelah menghabiskan waktu di jalan sekitar 1 jam, akhirnya Rara sampai juga di tujuan. Ia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam distro tersebut.

Ternyata, distro tersebut jauh dari apa yang ia bayangkan. Pakaian-pakaian yang dijual betul-betul menarik, apalagi pakaian-pakaian khusus perempuan. Mata Rara pun terbelalak dan serasa ingin membeli semuanya.

“(Anjrit lucu-lucu banget nih kaos!!)” ungkapnya dalam hati.”

Tiba-tiba ada sebuah suara memecah kehebohan hati Rara.

“Bisa dibantu??”
“Hah’ iya… eh…”
“Rara??”
“Andra? Kirain siapa.”
“Mana temen lo? Katanya mau cari kado, kok nggak ikut?”
“Ehm… berita buruk sih, dia putus.”
“Lah kok bisa? Tapi pas itu masih jadian kan?”
“Masih… nah hari itu juga dia putus. Pacarnya ketawan selingkuh gitu deh…”
“Waaah sayang banget ya.”
“Iya gitu deh…” jawab Rara sambil terus melihat kaos-kaos yang tergantung di hanger.”
“Eh gue kenalin yuk sama temen gue yang punya distro ini.”

Andra menarik tangan Rara tanpa menunggu persetujuan dari Rara.

“Gan’ sibuk nggak?” Tanya Andra.”
“Nggak’ kenapa?”
“Nih kenalin temen gue, namanya Rara. Ra’ ini bos gue yang gue ceritain sama lo waktu itu!”
“Halo, Rara…”
“Gana…”

Tiba-tiba ada pelanggan yang memanggil Andra.

“Mas mas!!”
“Bentar ya…” kata Andra kepada Rara dan Gana.”

Rara tersenyum kepada Gana’ begitu juga sebaliknya.

Tiba-tiba terdengar alunan lagu yang Rara tahu persis itu berasal dari stasiun radio favoritnya, US Radio…

“Suka dengerin US Radio juga?” Rara membuka percakapan.”
“Iya….” jawab Gana.”

Sesaat kemudian suara Gadis Paradise terdengar kembali…

“(Welcome back to US Radio, nah sekarang gue mau muterin satu lagu yang tadi udah di

request sama Rara.. gimana udah sampai atau belum di Distro tujuannya? oke deh this is

you’re song…..)”.

Rara tersenyum mendengar Gadis Paradise memutarkan lagu yang ia request.

“Itu lo ya?” tanya Gana.”
“Hhh? … iya.”
“Lo suka dengerin US Radio juga?”
“Ya gitu deh….”
“Sejak kapan?”
“Kapan ya?? udah lama sih….”
“Oh…”
“Nah lo sendiri sejak kapan dengerin US Radio?”

Gana tersenyum kepada Rara.

“(Lah kok dia malah senyum??!!)” ujar Rara sambil mengernyitkan dahi.”
“Gue dulu penyiar di US Radio….”
“Oh ya??”
“Iya… tapi sekarang udah nggak, kira-kira setahun yang lalu deh…”
“Kenapa berhenti?”

“Gue kan kuliah di jurusan bisnis, jadi gue pikir jiwa bisnis gue jauh lebih besar dibanding hasrat gue menjadi seorang penyiar radio. Emang sih gue akuin kalau menjadi penyiar radio itu adalah sesuatu yang menyenangkan banget, tapi ya itu tadi’ ternyata jiwa bisnis gue jauh lebih besar dibanding di radio, jadi ketika tawaran bisnis itu datang, gue gak mikir 2 kali lagi.”
“Oh gitu….”

Dengan tiba-tiba Andra datang menghampiri mereka berdua.

“Woooy…..”
“Apa sih lo ndra?? heri deh lo!!”
“Heri apaan Gan??”
“Heboh sendiri!!!”

Gelak tawa keluar dari mulut mungil Rara.

“Wah sial lo Gan….”
“Yah abis lo juga dateng-dateng heboh….”
“Biarin ah.. eh ra’ gimana distro bos gue?? keren kan?” ujar Andra sambil menunjuk Gana.”
“Iya bagus-bagus bajunya, gue rencananya mau beli satu ndra….”
“Mau gue pilihin nggak?? selera gue bagus loh!”
“Laga lo ndra, ndra….”
“Sirik aja lo Gan… gimana ra?”
“Boleh deh… eh tapi jangan yang warnanya gelap ya, gue nggak suka.”
“Sip senorita, tunggu ya.”
“Oke…..” jawab Rara sambil nyengir karena geli melihat tingkah Andra.”
“Andra, Andra. Ada-ada aja tuh anak.” kata Gana.”
“Lo udah lama temenan sama Andra?”
“Udah… dia temen deket gue pas SMP.”
“Oh…”

Gana melirik jam yang ada di distro dan terlihat arah jarum pendek ke angka 3 dan jarum pendek ke arah angka 9. Itu artinya, saat ini jam menunjukkan pukul 14.45 wib.

“Ra’ lo udah makan siang belum?” tanya Gana.”
“Belum, kenapa?” jawab Rara sambil melihat jam yang ada di tangannya.”
“Gue juga belum, mau makan siang bareng nggak??”
“Boleh-boleh….”
“Oke tunggu bentar ya gue beres-beresin bon dulu.”
“Oke…”

Selagi Gana membereskan bon-bon yang berserakan di meja kasir, Rara berkeliling Distro untuk melihat barang-barang yang belum ia lihat seperti tas, sepatu dan aksesoris.

“Ra’ kayanya lo pilih sendiri aja deh barangnya, nanti lo kasih ke gue ya. Soalnya gue jadi bingung sendiri gitu…..” ujar Andra yang sedari tadi mencari kaos yang pas untuk Rara.”
“Oh oke ndra nggak apa-apa kok…”
“Oke deh kalo gitu, gue ngurus barang dulu ya di gudang…”
“Iya ndra, jangan sampe gue ganggu lo!”

Andra pun berlalu pergi masuk ke dalam gudang penyimpanan barang-barang Distro yang baru datang.
“Ra……” Gana memanggil.”

Rara menoleh ke arah suara tersebut berasal. Gana melambaikan tangannya kepada Rara yang artinya adalah “ayo!”

Rara tersenyum dan menghampiri Gana. Lalu mereka berdua pun berlalu ke restoran bebek yang berada 2 blok dari distro, sehingga mereka berdua tidak perlu naik kendaraan.

Sesampainya di restoran…..

“Siang mas, mba mau pesan apa?” tanya salah seorang pegawai restoran tersebut.”
“Ehm… saya mau bebek bakar nya 1, paha ya mba.” Gana memesan lebih dulu.”
“Saya juga sama bebek bakar tapi dada ya mba.” Rara menyusul.”
“Minumnya?”
“Saya es teh manis, lo apa ra?”
“Saya teh manis hangat deh.”
“Baik, saya ulang ya pesanannya. Bebek bakar+nasi nya 2 paha dan dada, lalu es teh manisnya 1, sama teh manis hangatnya 1.”
“Yap….”
“Ditunggu ya pesanannya….”
“Makasih ya mba…”

Sepeninggal pegawai restoran itu, Rara dan Gana sibuk berbincang-bincang.

“Jadi lo kapan lulus kuliah gan?”
“Kapan ya?? lo dulu deh… kapan lulus SMA?”
“Tahun depan laaaaah emang kapan lagi?”
“Wah iya-ya hahaha gue kejebak sama pertanyaan gue sendiri nih.”
“Berarti 1-0 ya kita.”
“Dih kok gitu, tadi kan janjinya nggak lomba kaya gini ra!”
“Ahahaha….”
“Yaudah diulang ya, kita main 20 pertanyaan.”
“20?? 10 aja deh…”
“15??”
“5??”
“Oke 10 aja.” Gana menyerah.”

Rara hanya bisa tertawa ketika Gana menyerah.

“Oke, gue duluan ya….” kata Gana.”
“Oke….”
“Ehm… sebutin nama panjang lo?”
“Ah’ ya ampun.. oke oke. Nama panjang gue Yuniar Amara!”
“Nama yang bagus… lanjut ke pertanyaan kedua.”
“Hhh??”
“Hobi lo apa?”
“Hobi gue berenang, nyanyi, sama baca.”
“Standard ya??!!”
“Gana!!! asem lo….”
“Hehehe bercanda ra…”
“Gantian dong gue yang nanya…”

Gana mempersilahkan.

“Ehm apa ya?? …. oh sebutin nama panjang lo.”
“Nama panjang gue Sanggana Aditya, bagus kan?”
“Ehm…. nggak ah biasa aja, lanjut ya… ehm… umur lo sekarang berapa?”
“Ah parah nih bawa-bawa umur….”
“Eh namanya juga pertanyaan, ya terserah gue dong mau nanya apa.”
“Iya sih bener, tapi…. ah parah nih, umur gue 22.”
“Waaah jauh ya sama gue….”
“Ih kurang ajar lo dasar anak SMA…” ucap Gana sambil memukul meja dengan pelan.”
“Ampun ampun.”

Tiba-tiba pesanan mereka datang dan terpaksa permainan 10 pertanyaan terhenti.
“Mari makaaaan…” ujar Gana.”
“Makaaaan….”

Mereka berdua makan sangat hikmat, karena sangat menikmati tiap gigitan daging bebek yang mereka pesan.

“Ra abis ini lo ada acara nggak?”
“Kenapa emangnya??”
“Gue mau ngajak lo pergi kalo lo nggak ada acara… tapi kalo lo ada acara ya nggak jadi.”
“Acara apaan??”
“Rahasia laaah tapi lo pasti suka deh…”
“Ih sotoy banget sih lo, kaya tahu aja hal-hal yang gue suka.”
“Tahu gue, yang pertama tadi lo bilang lo suka berenang’ berarti lo suka nonton olimpiade renang.”
“Oke.. terus?”
“Yang kedua, lo bilang lo suka nyanyi. Berarti lo seneng dengan segala sesuatu yang ada hubungannya sama musik.”
“Not bad….”
“Nah yang terakhir lo bilang lo suka baca. Berarti lo suka pergi ke perpustakaan atau pameran buku dan pasti dirumah lo ada banyak buku-buku.”
“Iya bener sih tapi gue heran kok tebakan lo bisa bener ya?”
“Gana…. hehe.”
“Ih males deeeh….”

Selang beberapa menit kemudian, mereka berdua pergi dari restoran bebek tersebut dan berjalan beriringan kembali ke distro pada pukul 18.30 wib.

“Jadi gimana ra? lo ada acara apa nggak? gue jamin lo nggak akan nyesel deh ikut gue.”
“Gitu ya?? ehm… boleh deh.”
“Asik gitu dong….”
“Ehm tapi gan… gue kan bawa mobil??”
“Ehm… gini-gini. Jadi, lo pulang dulu aja kerumah lo’ nah gue ngikutin dari belakang. Nanti sampe dirumah, lo taruh mobil lo terus lo pergi sama gue naik mobil gue, gimana?”
“Ribet banget ya kedengerannya tapi okelaaah gue ngerti kok maksud lo.”
“Oke.. berangkat aja sekarang gimana?”
“Oke….”

Rara dan Gana pun beranjak dari distro dan melaju ke rumah Rara.

Di perjalanan mereka berdua sama-sama mendengarkan US Radio.

“(Hai hai hai YOUNGERS masih bareng gue ya Lukman si tampan nih.. cieeee asik deh! Nah sekarang nih kita udah tersambung dengan temen lamanya US Radio, sekalian kita interogasi ntar malem dia dateng apa nggak nih ke venue kita… coba kita cek yuk di line telfon sudah ada seseorang yang pastinya kalian kenal nih YOUNGERS, tes ya…

–          Halo?? Halo??
–          Halo….
–          Sadaaaap apa kabar bro??
–          Baik-baik, lo apa kabar man?
–          Baik gue, nah YOUNGERS bisakah kalian menebak siapa dia? coba bro lo kenalin
dong nama lo….
–          Hai YOUNGERS apa kabar? gue Gana….

Sementara itu di mobil Rara…
“Ih Gana?? dia on air loh.”
–          Gan lo dateng nggak hari ini ke venue kita?
–          Pasti laaaah ini gue lagi di jalan menuju kesana
–          Siap siap, sama siapa lo?
–          Sendirian nih gue di mobil
–          Ngibul lo parah…
–          Nggak serius gue… partner gue ada di mobil depan nih
–          Mobil depan? maksud lo?
–          Iya orangnya naik mobil dia sendiri nggak bareng sama gue
–          Lah kok misah gitu? sebut nama dong, siapakah dia? ahahaha
–          Namanya Yuniar Amara, nama panggilannya Rara
–          Widiiih buat orang yang dimaksud Gana, beruntung lah lo bisa pergi sama Gana
–          Apaan sih lo nggak lah biasa aja|
–          Ahahaha oke bro kalo gitu sampe ketemu di acara ya sob
–          Oke mamen bye…

Sementara itu di mobil Rara…
“Ih Gana apaan sih sebut-sebut nama gue lagi! liat aja nanti kalo udah sampe….”

15 menit kemudian, mereka berdua tiba di rumah Rara.

“Gana lo ngomong apa tadi di radio?”
“Nggak ngomong apa-apa kok sumpah!!”
“Dasar, yaudah gue ganti baju dulu ya….”
“Oke…”
“Eh lo nggak mau masuk dulu Gan?”
“Ehm… sini aja deh Ra’ teras rumah lo adem…”
“Yaudah kalo gitu… eh iya mau minum apa?”
“Apa aja asal jangan air kran.”
“Oh oke air kolam aja ya, mau?” jawab Rara sambil menunjuk ke arah kolam ikan.”
“Boleh Ra…. kebetulan badan gue kebal sama yang begituan.”
“Yaudah tunggu bentar ya……”

Rara segera masuk ke dalam rumahnya yang nyaman untuk ganti baju.

Di teras, Gana duduk sambil menikmati suara kucuran air yang muncul dari kolam ikan dan suasana yang mendukung dari langit yang terlihat agak mendung.

Tiba-tiba sebuah suara memecah…

“Maaf mas ini minumnya….” Ujar bibi yang bekerja dirumah Rara.”
“Eh iya makasih ya bi, ngerepotin nih.”
“Nggak apa-apa kok mas, silahkan diminum…”
“Iya makasih ya bi…”

Bibi pun kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Gana kembali sendiri.

Beberapa menit kemudian, Rara muncul dari dalam rumahnya.

“Gan….”
“Eh Ra’ udah siap?”
“Udah yuk, mau berangkat sekarang?”
“Yaudah kalo udah nggak ada apa-apa lagi….”
“Oke yuk….”

Rara memakai celana jeans warna hitam, kaos warna biru dan flat shoes warna abu-abu.

Di perjalanan, Rara dan Gana banyak berbincang-bincang tentang banyak hal.

“Jadi acara hari ini itu off air nya US Radio?? gue kira acara apaan….”
“Iya.. tapi seru banget! beda sama off air – off air sebelumnya Ra….”
“Bedanya??”
“Para bintang tamunya itu yang setahun terakhir ini pernah jadi number one di chart.”
“Oh gitu…”
“Selain itu ada juga band band baru yang single nya sering banget di request!!”
“Ih asik ya…. nggak nyesel deh gue ikut lo hari ini. Thankyou ya Gan udah ajak gue!”
“Iya sama-sama, gue juga seneng kok ngajak lo.”

Sesampainya di acara US Radio yang bertema “FIRST FINGER” ini, Gana langsung mengajak Rara ke tempat berkumpulnya para penyiar dan tim dari US Radio.

“Weeets Ganaaaaa yoi gue kira lo ngibul men nggak dateng.” Ujar Lukman yang tadi on air dengan Gana di telepon.”
“Nggak mungkin lah sob parah lo!”
“Iye-iye percaya Gan gue sama lo….” timpal yang lain.”
“Eh iya kenalin ini Rara temen gue, dia juga pendengar setia kita loh… Ra kenalin ini adalah orang-orang yang sering lo denger suaranya di Radio.”
“Oh halo……” ujar Rara sambil melambaikan tangan ke arah semua orang yang ada disitu.”

Mereka yang dilambaikan tangan oleh Rara pun membalasnya.

Saat mereka sedang berbincang-bincang, di atas panggung ada GIGI yang perform membawakan lagu SANG PEMIMPI.

“Ra’ lo kalo mau nonton, nonton aja ya!”
“Iya Gan, sip sip tenang aja…. Gue nungguin Endah n’ Rhesa Gan, mereka ada kan?”
“Ada kok ada tapi abis GIGI, ada 1 lagi, terus baru Endah n’ Rhesa.”
“Oh gitu… oke oke.”

Rara terus memperhatikan panggung, sambil sesekali ikut mendendangkan lagu yang dinyanyikan oleh si artis.

“Gan… gue kesitu ya?!” kata Rara sambil menunjuk arah yang ia maksud.”
“Oh oke Ra…..”

Rara pun berjalan ke arah yang tadi ia tunjukkan kepada Gana, karena ia melihat dari tempat tersebut ia dapat melihat ke arah panggung jauh lebih jelas dibandingkan dengan tempat ia berdiri sekarang.

Dan benar saja, Rara dapat melihat seisi panggung jauh lebih jelas. Ia pun asik mendengarkan sambil sesekali menyanyikan lirik-lirik lagu yang ia hapal.

Sedang asik-asiknya Rara menikmati acara tersebut, tiba-tiba seseorang menyenggol bahunya sehingga tubuh Rara agak berbelok sedikit.

“Aw…. aduuuh hati-hati dong….” keluh Rara.”
“Iya sorry-sorry….”

Ketika Rara menoleh, spontan Rara tersentak ketika tahu siapa orang yang menabraknya.

“Rara???!!” ujar orang itu.”
“Adit….?? lo ngapain disini?” tanya Rara dengan wajah yang kurang senang.”
“Gue nonton acara musik juga lah sama kaya lo..”
“Oh… oke, lo sama siapa kesini?”
“Gue…. sama…..”

Belum sempat Adit mengatakan dengan siapa ia pergi, datanglah seorang perempuan menghampiri Adit.

“Sayang…..”
“Eh.. iya…..”

Rara sontak mengernyitkan dahinya.

“Kenalin Ra’ ini Sarah…. dia….”
“Hai, gue Sarah pacarnya Adit.”
“Hai…. perut lo agak…. besar ya??”
“Iya, ini anak kita… bulan depan kita nikah loh, dateng ya?”
“Hhhh??…. iya kalo sempet gue pasti dateng.”
“Oke……” jawab Sarah.”
“Ehm Sar, dit, gue cabut duluan ya soalnya gue…. nggak bisa lama-lama disini….”
“Lo nggak berubah ya Ra dari dulu, masih nggak boleh keluar malem.”
“Loh emang kalian udah temenan dari kapan??”
“Ehm… gue duluan ya’ bye…”

Rara segera bergegas pergi meninggalkan Adit dan Sarah, dan segera menghampiri Gana.

Gana yang sedang tertawa-tawa dengan teman-teman radionya kaget ketika Rara datang menghampirinya dengan raut wajah yang aneh.

“Ra lo kenapa?”
“Gan, gue cabut duluan ya.. sorry banget nggak bisa lama….”

Seusai pamit, Rara langsung bergegas pergi. Gana yang merasa aneh, langsung mengejar Rara.

“Ra’ tunggu… eh sob gue cabut duluan ya, ada yang nggak beres nih soalnya. Nanti kalo sempet gue balik lagi deh ya…..”

Rara terus melangkah ke arah pintu keluar dengan cepat. Gana yang berada persis dibelakangnya terus mengejar tanpa menghiraukan suka atau tidaknya Rara dihampiri olehnya.

Sesampainya di pintu keluar, Gana berhasil menjangkau Rara dan bertanya….

“Lo kenapa sih Ra? kok tau-tau main pergi gitu aja?”
“Gue nggak bisa lama-lama disini Gan….”
“Ya tapi kenapa?? kasih gue alasan…”

Rara hanya diam ketika Gana bertanya seperti itu.
“Oke kalo lo cabut, gue cabut juga, oke??”

Rara tetap diam.

“Raaaa…..”
“Iya Gan terserah lo.”
“Oke kalo gitu ayo sekarang kita ke mobil.”

Rara hanya mengangguk dan Gana merangkulnya sampai ke mobil.

Di perjalanan….

“Gue mau pulang Gan….”
“Lo udah gila ya? mana bisa gue bawa lo pulang dengan kondisi lo yang tiba-tiba diem gini? yang ada gue digantung sama keluarga lo Ra, disangkain gue ngapa-ngapain lo nanti.”
“Terus lo mau bawa gue kemana Gan??”
“Gue akan bawa lo pergi dulu sampe lo mau cerita sama gue tentang semua ini. Baru abis itu gue bawa lo pulang kerumah…”

Gana pun melajukan mobilnya ke sebuah tempat favoritnya ketika ia sedang sedih atau saat ia sedang tidak ingin diganggu siapa-siapa.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Di tempat itu ada sebuah kedai kecil yang lokasinya agak menjorok dari jalan raya, sehingga tidak banyak orang sering kesitu. Di belakang warung tersebut ada sebuah lapangan yang suka dipakai main bola oleh anak-anak setempat di siang hari.

“Lo mau ngapain Gan ngajak gue kesini??” tanya Rara.”
“Udah turun aja….”
Gana keluar lebih dulu lalu Rara menyusulnya.

“Lo mau minum apa Ra?” teriak Gana dari kedai kecil yang ada di situ.”
“Apa aja….” Rara balas teriak.”

Beberapa menit kemudian Gana datang membawa segelas kopi dan segelas susu cokelat hangat.

“Nih Ra buat lo….”
“Apa nih?? susu??”
“Iya susu… diminum Ra…”
“Ih Gana emang gue bayi apa malem-malem minum susu.”
“Setau gue sih iya, soalnya bayi itu kan aneh. Tahu-tahu dia senyum, tahu-tahu dia cemberut, tahu-tahu dia nangis, dan lain-lain.”

Rara mesam mesem.

“Jadi, lo kenapa?? udah mau cerita kan? tadi selama di perjalanan kita lama loh diem-dieman….”
“Gue juga nggak tahu Gan sebenernya apa yang gue mau ceritain ke lo… karena gue sendiri juga nggak tahu kenapa gue jadi kaya gini??!!”
“Ehm… mulai ngarang nih, jujur aja Ra…. gue sebagai orang yang baru kenal sama lo mau kok dengerin lo, beneran deh….”
“Tadi gue ketemu mantan pacar gue Gan…..”
“Terus??”
“Iya gue juga nggak tahu kenapa pertemuan kita tadi, nggak jadi hal yang menyenangkan buat gue??”
“Mantan pacar lo itu dulu pernah nyakitin lo ya?”

Rara langsung menoleh ke arah Gana dan Gana membalasnya sambil menatap mata Rara.
“Gue………”

Gana terus menatap masuk ke dalam mata Rara.
“Dia dulu selingkuh sama sahabat gue…. dan jujur aja gue kecewa banget sama hal itu. Terus tadi disana gue ketemu dia sama pacarnya dengan kondisi lagi hamil dan bulan depan mereka mau nikah…. gue juga nggak tahu kenapa tadi gue jadi sensitif.”
“Lo masih sayang ya sama mantan lo itu??”
“Gue nggak tahu Gan… menurut gue sih kayanya bukannya masih sayang sama dia, tapi bekas luka waktu itu nggak kering-kering sampai sekarang. Apa karena gue kecewa sampai banget banget ya?!”
“Apapun itu, kalo menurut gue nggak sehat banget Ra buat lo. Apapun yang pernah terjadi di dalam hidup lo, lo mesti syukurin itu. Karena coba deh lo pikir, kalo misalnya lo nggak pernah ngalamin itu, lo pasti nggak akan pernah tahu mana yang baik buat lo dan mana yang nggak. Dan yang lebih penting adalah kalo itu nggak pernah terjadi, lo nggak akan pernah dapet pelajaran hidup yang sebegitu hebatnya sehingga bikin lo menjadi orang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.”

Seketika Rara diam seribu bahasa karena tidak menyangka, kata-kata yang sangat berharga dan bernilai tinggi keluar dari mulut seorang mantan penyiar radio yang kini berprofesi sebagai pembisnis.
“Ra…..”
“Eh… iya Gan??”
“Kok lo bengong? lo dengerin omongan gue kan?”
“I…. iya gue dengerin kok…. iya dengerin.”
“Hhmm…. yowis, kalo lo udah tenang kita balik oke.”

Rara hanya menjawab dengan sebuah senyuman manis.

Mereka berdua pun menghabiskan sepanjang malam di tempat tersebut. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, mereka berdua pun bergegas pergi dari tempat itu menuju kerumah Rara.

Di perjalanan….

Terdengar sebuah alunan musik dari DEPAPEPE dengan Doraemon Accousticnya.
“Gan… gue boleh numpang tidur bentar nggak? ngantuk….”
“Lo percaya nggak kalo gue nggak bakal ngapa-ngapain lo?”
“Ehm… emang lo mau ngapa-ngapain gue Gan?”
“Ya nggak lah gila kali gue….”
“Nah yaudah kalo gitu, gue percaya sama lo.”
“Yaudah gih kalo lo mau tidur, tidur aja.”
“Yaudah nanti sampe di depan rumah gue bangunin ya…”
“Iya….”

Seketika itu juga kedua mata Rara terpejam.

Beberapa saat kemudian mobil Gana terhenti karena sebuah lampu merah. Detik pada lampu merah tersebut masih menunjukkan angka 56. Itu tandanya, masih beberapa detik lagi untuk mencapai lampu hijau. Secara tidak sengaja, Gana menoleh ke arah Rara yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum dan berkata dalam hati….

“(Bener kata orang, kalo mau lihat naturalnya cewek itu pas mereka lagi tidur. Cantik banget sih lo Ra….)”

Tiba-tiba lampu hijau menyala dan Gana kembali melajukan mobilnya menuju rumah Rara.

45 menit kemudian, Gana berhasil mengantar Rara sampai ke depan pintu gerbangnya. Sambil membelai lembut rambut Rara, dengan hati-hati Gana membangunkannya.
“Ra’ udah sampe nih bangun yuk. Terusin tidurnya di kamar aja….”

Seraya menguap, Rara berkata…
“Oh udah sampe ya?? kok cepet Gan? nggak macet ya?”
“Bukannya nggak macet Ra, tapi lo nya yang pules.”
“Gitu ya?? yaudah gue turun ya, thankyou banget buat semuanya ya Gan. Gue seneng banget bisa jalan sama lo hari ini….” Ujar Rara sambil menatap Gana.”
“Iya gue juga seneng bisa kenal + jalan sama lo hari ini.”
“Yaudah, bye Gan sampe ketemu lagi ya.”
“Eh tunggu Ra….”
“Iya??”
“Ini emang yang pertama kita jalan bareng, tapi gue harap ini bukan yang terakhir ya.”

Dengan mantap Rara menjawab.
“Pasti Gan!”

Rara masuk ke dalam rumah dan melihat kepergian Gana dari jendela ruang tamu.

Setelah Gana menghilang, Rara melenggang ke kamarnya. Sampainya di kamar, ia langsung membersihkan diri lalu merebahkannya di kasur. Sambil menutup matanya perlahan-lahan, ia berkata….

“Tuhan, terimakasih telah memberikan segala sesuatunya padaku hari ini. Semoga semua itu bisa membuatku menjadi manusia yang lebih baik lagi, amin….”
Rara pun mimpi indah malam itu.

Di tempat lain, suasana yang sama terjadi, tepatnya di dalam kamar Gana. Sambil mendengarkan iPod, ia membatin…
“(Rara… cantik, manis, dan kayanya dia cewek baik-baik deh. Ehm… gue gebet aja kali ya? hehehe, Rara’ lo bikin gue aneh..).”

Keesokan harinya….
“Hoooaaaaaam…..”

Rara mengulet dan melihat jam yang ada di layar handphonenya.
“Jam 8 ya? hhhhhh……”

Rara bangkit dari tidurnya’ berdiri, memutar pingganggnya ke kanan dan ke kiri. Setelah itu ia membuka tirai dan pintu beranda kamarnya. Dengan senyum, ia menikmati segarnya udara pagi di lingkungan rumahnya.

Tiba-tiba sebuah suara di balik pintu mengusik ketenangan Rara.
“Tok tok tok!!! Raaaaaa……”
“Iya bentaaaaar….” Rara bergegas menuju ke pintu kamar dan membukanya.”
“Kenapa mas?”
“Mandi Ra….”
“Tumben banget mas Dio nyuruh aku mandi? mau ada apa emangnya?”
“Mau ada tamu, temennya ayah.”
“Terus urusannya sama aku apa??”
“Iya juga ya?? pokoknya kamu mandi aja deh. Mas Dio juga disuruh gitu soalnya.”
“Iya-iya…”

Setelah memberitahu Rara, mas Dio beranjak pergi dari depan kamar Rara. Sepeninggal mas Dio, Rara bersiap-siap untuk menyambut tamu ayah yang tidak ia kenal itu.

Selesai mandi, ia kembali ke kamarnya untuk berpakaian. Setelah berpakaian, ia meraih handphonenya yang tergeletak di atas kasur. Ia melihat ada sebuah sms yang masuk di layar handphonenya. Ia segera membuka sms tersebut dan ternyata sms itu dari Gana, ia pun membacanya….

From                     : Gana
Pagi Ra, gimana tidur lo? nyenyak?

Dengan wajah yang sumringah Rara membalas

To                           : Gana
Pagi juga Gan, nyenyak kok hehe.. lo sendiri??

From                     : Gana
Yaaah nyenyak kok… lumayanlah hehe

To                           : Gana
Bagus deh kalo gitu..

From                     : Gana
Gimana keadaan lo Ra? udah baikan?

“( Ya ampun Gana perhatian banget sama gue??… ih Rara mikir apa sih lo!).”

To                           : Gana
Gue udah nggak mikirin banget
sih Gan… makasi ya lo udah baik
banget sama gue tadi malem

From                     : Gana
Sama-sama lah Ra… masa gue
ngeliat temen gue sedih terus
gue diem aja….

“( Aaah sweet banget sih Gana…..).”

To                           : Gana
Bisa aja lo Gan, but thankyou so much ya

From                     : Gana
Sama-sama Ra… lo lagi ngapain?

To                           : Gana
Lagi siap-siap mau ada temen
bokap gue dateng kerumah

From                     : Gana
Oh gitu, yaudah kalo gitu nanti
gue sms lagi deh Ra’ takut ganggu
lo jadinya

To                           : Gana
Nggak kok sebenernya, tapi yaudah
kalo gitu. Gue yakin kerjaan lo pasti
juga masih banyak kan??

From                     : Gana
Iya sih Ra hehe yaudah bye Ra, see you later

Rara hanya tersenyum saat membaca sms terakhir dari Gana dan meletakkan handphonenya di atas meja lampu dekat tempat tidurnya.

Ketika ia meletakkan handphonenya disana, ia teringat akan sesuatu yang ada di laci meja tersebut.
“Eh gue kan punya buku ini, kok bisa lupa ya? baca ah….”

Akhirnya Rara duduk di atas kasurnya dan membuka buku yang berjudul “SELAMANYA” itu, lalu ia mulai membacanya.
Lama kelamaan Rara mulai terhanyut dalam alur cerita buku tersebut. Tanpa sadar Rara memunculkan ekspresi-ekspresi, ia tersenyum, tertawa, diam, hingga ia sampai pada titik klimaks di dalam buku tersebut dan akhirnya Rara menitihkan air matanya…
Ia meneteskan air mata tepat di halaman 30.

“(…. Hingga akhirnya Angga meninggal dunia disaat Juni ingin memberitahunya bahwa ia harus pindah keluar kota karena urusan pekerjaan ayahnya. Namun, sebelum semua itu terwujud justru Angga yang lebih dulu meninggalkannya. Menurut adik perempuan Angga’ Salsa, kakaknya menitipkan sebuah surat untuk Juni…
“ Kak Juni, ini ada sebuah surat dari kak Angga untuk kakak.”
“Terimakasih Salsa…”
Dengan berat hati Juni membuka surat itu dan mulai membacanya.

Dear Juni…
Disaat-saat terakhir hidupku, engkau selalu ada disampingku. Tapi maaf bila selama ini saat kau butuh aku, aku tidak pernah ada disampingmu. Sebab aku berkelit dengan kanker stadium 4 yang bersarang di otakku. Aku sadar, aku memang tidak ada apa-apanya untukmu. Aku juga tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi, aku punya sesuatu yang kamu harus tahu… AKU CINTA KAMU. Sejak pertama kali kita bertemu di awal musim penghujan 3 tahun yang lalu. Kamu ingat?? Tepat setahun berikutnya aku menyatakan segenap perasaan ku padamu. Namun maaf, sebelum aku sempat melamarmu’ aku harus pergi jauh darimu.
Walaupun saat ini aku sudah tidak tampak lagi di hadapanmu, aku akan selalu ada di dalam hati, jiwa dan sisimu. Jika kau tidak percaya akan itu, kau bisa membuktikannya. Setiap hari pertama hujan setelah kemarau panjang, aku akan datang bersama tetesan air hujan yang jatuh untuk menemuimu…..

by: Ariyo Bamangga

Pipi Juni pun basah karena titik-titik air matanya sendiri……).”

Saat Rara terhanyut dengan buku yang ia baca tetesan air hujan membasahi jendela kamarnya, dan itu membuat ia tersadar akan sesuatu….
“Hhh… hujan pertama di ujung kemarau.” Ujarnya pelan.”

Lalu ia menutup buku itu dan meletakkannya kembali ke dalam laci meja.

Leave a comment »

Sehari untuk Selamanya (#1)

“Ra’ lo udah punya rencana buat kuliah belum?” Tanya Vira.”
“Tahu deh, lo sendiri gimana?”
“Rencananya sih gue mau ke Surabaya.”
“Surabaya? Jauh banget?!”
“Habis di Jakarta saingannya banyak ra, orang dari daerah juga banyak yang ke Jakarta.
Jadi apa salahnya gue ngambil di luar kota, iya nggak?”
“Iya juga ya…”

Ya’ itu adalah sedikit percakapan antara Rara dan Vira. Sepasang sahabat sejak kelas I di Sekolah Menengah Atas GANESHA. Rara bernama lengkap Yuniar Amara dan kini tercatat sebagai siswi kelas XII IS II, sedangkan Vira yang bernama lengkap Alexa Viranti kini tercatat sebagai siswi kelas XII IA III. Saat ini mereka berdua sedang makan siang sambil berbincang-bincang di kantin sepulang sekolah.

“Abis ini lo mau kemana ra?”
“Nggak tahu’ kayanya sih langsung pulang deh, kenapa?”
“Mau temenin gue cari kado buat Ega nggak?”
“Ega? Dia ulang tahun? Kapan?”
“Bukan! Sabtu besok gue 6 bulanan sama dia ra..”
“6 bulan? Udah lama juga ya?”
“Lamaan mana sama trauma lo?”
“Vir’ kita udah sepakat kan nggak bahas masalah ini lagi?”
“Gue nggak ngebahas kok, cuma mau nyadarin lo aja untuk kesekian kalinya kalo lo itu
udah saatnya buka lembaran baru ra.”
“Gue juga udah bilang ke lo untuk kesekian kalinya kalo itu nggak segampang apa yang lo
pikir.”
“Iya, tapi itu cuma omong kosong buat gue. Karena faktanya, lo nggak pernah nyoba untuk
bangkit dari trauma lo itu!”
Rara pun terdiam mendengar omongan Vira kali ini.

“Come on ra, lo cantik, baik, pinter, nggak mungkin cowo nggak mau sama lo. Lagian ya’
kalo Adit tahu lo begini setelah dia ninggalin lo, dia pasti mikirnya dia menang karena bisa
bikin lo terpuruk. Iiiih males banget gue ngebayanginnya!!”

Melihat ekspresi Vira yang sampai segitunya rara tertawa.
“Hahahahaha…..”
“Eh kok lo ketawa?”
“Abis muka lo, hahaha aneh banget barusan!”
“Sialan lo ra… eh nih ya’ kaya gue ra. Putus dari Putra, seminggu kemudian jadian lagi
sama Ega.”
“Lo mah emang gatel Vir, orang-orang juga tahu hahaha….”
“Ih Rara dia mah… yaudah cabut yuk nanti ke sore’an lagi.”
“Yuk…..”
Mereka pun langsung pergi ke sebuah mall di Jakarta yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari sekolah mereka.

Sesampainya disana….
“Gue beli apa ya ra?”
“Ehm… apa ya? … gimana kalo kaos aja?”
“Kaos ya? … boleh deh ra, kaya apa ya modelnya?”
“Coba liat di toko itu aja Vir!” ujar rara sambil menunjuk ke arah toko yang dimaksud.”
“Yaudah ra’ lo tolong cariin dulu ya, gue mau ambil uang dulu di ATM bentar.”
“Yaudah buruan.”
Vira pun pergi dan tinggallah Rara sendiri menuju toko yang ia maksud dan mulai mencari kaos mana yang cocok untuk Ega. Rara sibuk mencocokkan yang satu dengan yang lainnya, namun di matanya tidak ada satupun yang cocok untuk Ega. Karena, Rara tahu persis seperti apa selera Ega’ sebab Vira sering bercerita tentang Ega dari A sampai Z.

Saat Rara dalam kondisi kebingungan, tiba-tiba ada sebuah suara memecah suasana saat itu.
“Sorry kayanya dari tadi gue liat lo sibuk banget milih-milih kaos.”
“Hhhh??!!”
Orang tersebut sadar kalau Rara tidak terlalu nyaman ketika ia sapa. Maka, tanpa buang waktu orang itu segera memperkenalkan diri.

“Oh iya kenalin, nama gue Andra.” Ujarnya sambil menjulurkan tangan.”
“Rara…” balasnya sambil menjabat tangan Andra.”
“Lo nggak perlu takut ra, gue nggak ada maksud apa-apa kok cuma mau promosi aja
dikit.”
“Promosi??” Rara mengernyitkan dahi.”
“Iya, jadi kalo gue boleh tahu lo nyari kaos itu buat lo apa buat orang lain?”
“Buat kado… sebenernya yang mau beli itu temen gue sih, dia mau beli buat pacarnya.”
“Pacarnya cewe atau cowo?”
“Cowo sih…”
“Nah gini ra, kebetulan temen gue baru buka distro di Kemang namanya LIMITED.”
“Terus??”
“Disana dijual beragam jenis kaos ra, ada yang buat perempuan sama laki-laki. Lebih
spesialnya lagi, setiap kaos yang dijual disana cuma dibikin 1 doang alias nggak pasaran.”
“Oh ya??”
“Iya… kalo masalah harga sih standard distro ra alias terjangkau banget sama dompet
anak muda.”
“Hhmm… boleh juga tuh ndra, alamatnya dimana?”
“Di daerah Cilandak, posisi distronya itu di sebelah kiri ada tukang sate yang rame banget,
terus sebelah kanannya ada gang kecil gitu.”
“Oh gue tahu deh kayanya, yang arah pom bensin sebelah kanan ya?”
“Nah bener banget tuh. Kalo lo mau kesitu, kesitu aja! Kebetulan yang punya distro itu
temen gue namanya Gana. Nanti lo bilang aja temen gue, siapa tahu dikasih diskon.”
“Oh gitu oke-oke.”

Tak lama kemudian Vira datang.
“Sorry ya ra lama, tadi ngantri soalnya.”
“Iya nggak apa-apa kok.”

Lalu pandangan Vira mengarah ke Andra dengan wajah keheranan. Karena sadar, Rara memperkenalkan teman barunya itu kepada Vira.
“Eh iya Vir, kenalin ini namanya Andra.”
“Oh halo Vira…”
“Andra….”
“Vir, kita nggak usah beli kado disini. Belinya di distro temennya Andra aja di Cilandak.”
“Emang disini kenapa?”
“Pasaran, lo mau beli buat Ega?”
“Yaaah jangan dong.”
“Eh sorry nih gue motong, tapi gue mesti cabut balik ke distro takut dicariin sama bos gue
hehe.”
“Oh iya ndra silahkan-silahkan thankyou ya udah ngasih gue informasi.”
“Oke sama-sama yuk duluan….”
“Iya…”

Ketika Andra pergi, Rara dan Vira pun ikut pergi dari mall tersebut. Di perjalanan mereka sibuk membicarakan tentang Andra.
“Kok lo bisa kenal gitu sama siapa tadi namanya?”
“Andra…”
“Iya Andra….”
“Kan gue liat-liat kaos yang ada di toko tadi sambil bingung gitu, eh dia ngeliat terus nyapa
gue Vir.”
“Oh terus-terus?”
“Iya… ternyata dia itu bantuin temennya bisnis distro di Cilandak. Dia bilang setiap kaos
yang di jual disana cuma dibikin 1 dari pabriknya.”
“Ah serius??”
“Iya… makanya kalo menurut gue sih nggak ada salahnya kita coba kesana.”
“Yaudah boleh deh ra… Sabtu ya?”
“Oke… eh emang lo 6 bulanannya kapan?”
“Hari Minggu.”
“Oh, oke-oke.”

Mereka pun terus mengobrol sampai tiba saatnya Rara untuk turun dari mobil Vira.
“Lo mau gue drop dimana ra?”
“Di halte depan aja Vir gue mau ke tukang buku dulu.”
“Oke…”

Sesampainya di halte….
“Trims ya Vir, lo hati-hati nyetirnya.”
“Iya… daaaaaagh…”

Rara berjalan dari halte menuju ke tukang buku bekas langganannya. Sesampainya disana….
“Pak Iweeeeet!!!” sapa Rara kepada pemilik toko buku bekas tersebut.”
“Eh neng Rara, mau cari buku apa neng?”
“Ada yang baru nggak pak?”
“Ehm…. ada neng, tempo hari ada yang jual kesini. Sebentar ya bapak ambilkan dulu di
dalam, lihat-lihat saja dulu yang lainnya.”
“Iya-iya makasih….”

Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya pak Iwet datang kembali sambil membawa sebuah buku yang terlihat sekali baru dibersihkan.
“Nah neng Rara ini bukunya.”
“Segalanya?!… kok nggak ada nama penerbitnya?”
“Buku ini langsung dikasih sama penulisnya neng. Dia cuma bikin 2, yang satu sudah dibeli
orang 3 hari yang lalu, yang satu lagi saya jual ke neng Rara sekarang. Kalo neng Rara
tertarik, bapak jual setengah harga aja’ 15 ribu, tapi kalo nggak mau ya nggak apa-apa.”

Rara langsung mengeluarkan selembar uang 10.000 dan selembar uang 5.000 dari dalam saku bajunya.
“Saya mau pak’ makasih ya. Oh iya kira-kira ada stok lagi kapan ya?”
“Yaaaah mana bapak tahu neng. Ini toko kan ada stok baru kalo ada orang yang jual, kalo
nggak ada yang jual ya nggak ada stok baru neng.”
“Iya juga ya… yaudah pak saya pulang dulu ya.”
“Iya neng, hati-hati ya.”

Rara pun beranjak dari toko buku itu dan pulang kerumah.
Sesampainya dirumah….
“Assalamu’alaikuuuuum…..”
“Wa’alaikumsalaaaaaam….. baru pulang ra?”
“Iya bu, tadi abis nemenin Vira beli kado buat pacarnya. Terus aku cari buku dulu bentar.”
“Di toko buku bekas itu lagi? Seneng banget sih kamu beli-beli buku bekas?”
“Yang bekas kan bukunya bukan isinya….”
“Yaudah sana bersih-bersih dulu bau kamu…”
“Ih masa’ wangi ah….” Ujar Rara sambil beranjak pergi ke kamarnya.”
“Terus makan kalo belum makan…”
“Iyaaaaa.”

Sesampainya di kamar, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari debu-debu jalanan yang menempel. Baru setelah itu ia istirahat.
“Aaaaah segeeeerrr!!!”

Katanya seraya merebahkan diri di atas kasur. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa ia baru saja membeli sebuah buku.
“Eh iya bukunya…”

Ia pun bangkit dari tidurnya dan mengambil buku itu di tasnya yang ada di atas meja. Setelah itu ia duduk di atas kasurnya yang nyaman.
“Kaya apa sih ceritanya?”

Rara membuka buku itu dan melihat tanda tangan besar serta nama sang penulis.
“Lukman Prasetyo… ini toh pengarangnya.”

Lalu Rara membuka halaman berikutnya dan ia menemukan sebuah tulisan tangan dari sang penulis.
“Masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dipendam apalagi dilupakan seburuk apapun itu.
Sebab, jika kita mengingat masa lalu kita jadi tahu siapa diri kita dan seperti apa diri kita
yang sebenarnya….”

Rara mendalami kalimat tersebut sambil tersenyum.
Ia pun terus membuka halaman demi halaman di dalam buku tersebut. Hingga akhirnya ia terhenti di halaman ke-15 paragraf ke-3, sebab disana tertulis…
“(Angga berkata.. “Mana yang akan kau pilih? Benci aku, tinggalkan aku, atau lupakan
aku?” …. Juni menjawab…. “Aku akan pilih mencintaimu di atas kebencianku padamu, di
atas keinginan ku untuk meninggalkanmu dan di atas harapanku untuk bisa
melupakanmu….” dan Angga pun terdiam…).”

Rara merasa kalimat itu sangat-sangat menyentuh hatinya. Ia pun menjadi penasaran dengan sang penulis.
Rara hanya berhasil membaca sampai halaman 20 karena ia merasa mulai mengantuk. Ia memberi pembatas pada halaman terakhir yang ia baca itu. Kemudian ia meletakkan buku tersebut di meja lampu tepat di sebelah kiri tempat tidurnya. Setelah itu ia berdoa…
“Tuhan, berikanlah kebaikan untukku di hari esok dan seterusnya. Amin!”

Lalu ia menutup matanya.

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

Comments (1) »